Setiap orang tua pasti pernah menghadapi momen di mana si kecil tiba-tiba meledak dalam tangisan atau teriakan, yang kita kenal sebagai tantrum. Ledakan emosi ini umum terjadi pada anak-anak prasekolah. Meskipun sering membuat frustrasi, tantrum adalah bagian normal dari perkembangan, cara mereka mengekspresikan diri saat kata-kata belum cukup.
Memahami mengapa anak sering tantrum adalah kunci untuk menghadapinya dengan lebih tenang dan efektif. Ini bukan tentang mencari siapa yang salah, melainkan mengidentifikasi pemicu di balik perilaku tersebut agar Anda bisa memberikan dukungan yang tepat. Mari kita selami berbagai penyebab umum yang sering membuat si kecil tantrum. Baca selengkapnya di situs berita thailand!
1. Kelelahan dan Kurang Tidur
Salah satu pemicu tantrum paling umum adalah kelelahan. Sama seperti orang dewasa, anak-anak menjadi lebih mudah marah dan sulit mengatur emosi saat merasa lelah. Jadwal tidur tidak teratur atau kurangnya waktu tidur siang bisa menguras energi mereka.
Ketika anak sangat lelah, bahkan permintaan sederhana pun bisa memicu ledakan emosi. Tubuh dan pikiran mereka butuh istirahat untuk berfungsi optimal. Memastikan anak mendapatkan tidur cukup dan berkualitas adalah langkah krusial mengurangi frekuensi tantrum.
2. Rasa Lapar atau Haus
Anak-anak juga mengalami “hangry” alias marah karena lapar, dengan intensitas lebih tinggi. Gula darah rendah karena kelaparan bisa membuat mereka mudah tersinggung, rewel, dan tidak sabar. Tubuh kecil mereka butuh asupan energi konsisten.
Dehidrasi ringan juga memengaruhi suasana hati dan energi. Pastikan anak mendapatkan camilan sehat teratur dan cukup minum air sepanjang hari. Ini dapat mencegah tantrum yang dipicu oleh kebutuhan fisik dasar.
3. Tidak Mampu Berkomunikasi Efektif
Anak-anak memiliki banyak keinginan dan emosi, tetapi seringkali belum memiliki kemampuan bahasa yang cukup. Frustrasi karena tidak dimengerti adalah penyebab utama tantrum, terutama pada balita yang sedang belajar berbicara.
Ketika mereka ingin sesuatu tapi tidak tahu cara mengatakannya, atau mencoba menjelaskan perasaan tetapi tidak dipahami, ledakan emosi bisa jadi satu-satunya cara mereka menarik perhatian dan menyampaikan pesan.
Keterbatasan Kosakata
Pada usia balita, perbendaharaan kata anak masih terbatas. Mereka mungkin tahu apa yang diinginkan di benaknya, tetapi tidak punya kata-kata tepat untuk menyampaikannya. Hal ini sangat membuat frustrasi bagi si kecil.
Keterbatasan ini membuat mereka merasa “terjebak” dan tidak berdaya. Tantrum kemudian menjadi pelampiasan frustrasi, cara non-verbal untuk mengatakan, “Saya tidak tahu cara mengatakannya, tapi saya butuh bantuan!”
Sulit Mengungkapkan Emosi
Anak juga belum sepenuhnya memahami dan mampu melabeli emosi kompleks seperti marah atau sedih. Mereka merasakan emosi ini sangat intens, tetapi tidak tahu cara yang “benar” untuk menunjukkannya. Akibatnya, emosi tersebut meluap sebagai tantrum.
Ini bagian dari proses belajar regulasi emosi. Orang tua berperan membantu anak mengenali dan menamai perasaan mereka, sehingga mereka bisa belajar mengekspresikannya dengan lebih sehat.
4. Frustrasi Karena Keterbatasan
Dunia penuh hal yang ingin dicoba anak, tetapi kemampuan fisik dan kognitif mereka belum sepenuhnya berkembang. Ketika mereka berusaha melakukan sesuatu, seperti menyusun balok atau memakai baju sendiri, dan gagal, frustrasi bisa memuncak.
Perasaan tidak berdaya karena tidak bisa mencapai apa yang diinginkan sering berujung tantrum. Ini reaksi normal terhadap kegagalan atau hambatan yang mereka alami, bagian dari proses belajar dan mengembangkan kemandirian.
5. Mencari Perhatian Orang Tua
Anak-anak sangat membutuhkan perhatian dari orang tua. Terkadang, jika mereka merasa kurang diperhatikan atau tidak mendapatkan respon yang diinginkan, mereka akan menggunakan tantrum sebagai strategi untuk mendapatkan perhatian, bahkan jika itu perhatian negatif.
Meskipun orang tua mungkin jengkel, dari sudut pandang anak, tantrum berhasil menarik perhatian. Penting mengenali kapan tantrum digunakan sebagai alat pencari perhatian dan bagaimana meresponnya dengan bijak.
Menguji Batasan dan Reaksi
Anak-anak sering menggunakan tantrum untuk menguji batasan yang telah ditetapkan orang tua. Mereka ingin tahu seberapa jauh bisa mendorong, apa yang terjadi jika tidak mengikuti aturan, dan bagaimana reaksi orang tua mereka.
Ini bagian dari eksplorasi mereka terhadap dunia. Jika tantrum berhasil membuat orang tua menyerah atau mengubah keputusan, anak akan belajar bahwa tantrum adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
6. Perubahan Rutinitas atau Lingkungan
Anak-anak, terutama balita, berkembang baik dalam rutinitas stabil. Perubahan mendadak dalam jadwal harian, lingkungan baru, atau transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, bisa sangat membebani mereka.
Ketidakpastian dan kurangnya kontrol terhadap situasi baru bisa memicu kecemasan dan frustrasi, termanifestasi sebagai tantrum. Memberikan peringatan sebelumnya tentang perubahan atau menciptakan rutinitas konsisten dapat membantu anak merasa aman.
7. Sensitivitas Sensorik atau Overstimulasi
Beberapa anak memiliki sensitivitas sensorik lebih tinggi. Lingkungan terlalu ramai, bising, terang, atau penuh tekstur tertentu bisa sangat membebani. Sensasi yang bagi orang dewasa biasa saja, bagi anak sensitif bisa terlalu intens dan memicu stres.
Ketika sistem sensorik mereka kelebihan beban (overstimulasi), mereka mungkin merasa kewalahan dan tidak nyaman, yang bisa langsung berujung tantrum. Mengenali tanda-tanda overstimulasi dan memberikan lingkungan tenang adalah kunci.
8. Kebutuhan Akan Batasan yang Jelas dan Konsisten
Meskipun anak sering menguji batasan, mereka sebenarnya membutuhkan batasan jelas dan konsisten untuk merasa aman. Ketika batasan tidak ada, tidak konsisten, atau orang tua sering menyerah, anak bisa merasa bingung dan tidak memiliki arahan.
Tantrum juga bisa muncul sebagai reaksi terhadap batasan baru atau tidak disukai. Menerapkan aturan dengan tegas namun penuh kasih, serta menjelaskan alasannya, sangat penting untuk membantu anak belajar regulasi diri.
Kesimpulan
Tantrum pada anak adalah bagian menantang namun normal dari proses tumbuh kembang. Dengan memahami berbagai penyebabnya—mulai dari kebutuhan fisik, kesulitan komunikasi, frustrasi, pencarian perhatian, perubahan rutinitas, sensitivitas sensorik, hingga kebutuhan batasan—kita sebagai orang tua dapat merespons dengan lebih empati dan efektif.
Ingatlah bahwa setiap anak unik, dan pemicu tantrum mereka bisa bervariasi. Amati pola perilaku si kecil, identifikasi apa yang mungkin memicu ledakan emosinya, dan berikan dukungan yang konsisten dan penuh kasih. Dengan kesabaran dan pemahaman, Anda dapat membantu anak belajar mengatur emosinya dan melewati fase perkembangan ini dengan lebih baik. Coba sekarang di stacy richardson!
Stacy Richardson Photography Blog Wedding Stories & Inspiration